Pengalaman Syifa Dengan Opel Blazer

opel blazer

Pengalaman memiliki mobil pertama untuk perancang busana, Dewi Syifa, sangat senang. Terang saja, merek sport sport vehicle (SUV) merek Opel Blazer dibeli dari hasil keringatnya sendiri.

Opel Blazer Type DOHC 2.2 kendaraan pada tahun 1997, adalah kendaraan yang dibeli dari tangan kedua sekitar tiga tahun yang lalu.

“Pertama melihat tubuh Opel senang senang aja, besar, tangguh, keren deh,” kata Dewi sambil menyapa Tribun Jogja, beberapa waktu lalu.

Dewi mengatakan, awal mendapat mobil ini bisa dibilang beruntung, atau kalau orang Jawa disebut Pulung. Dia membelinya dari seorang pengusaha Yogya, dengan kondisi kendaraannya masih bagus, bodi masih seperti baru, dan juga jok mobil semuanya dibalut kulit asli. Mobil itu hanya digunakan sepanjang 2.000 kilometer. Harganya bisa murah harganya hanya Rp 78 juta.

“Katanya 12x baru digunakan oleh pemiliknya, kondisinya masih mulus, itu banyak mobil, jadi Opel dijual langsung,” katanya.

Sejak awal, Dewi sudah tahu punya kendaraan Opel Blazer yang berat. Tapi bila itu adalah pertimbangan terkuat untuk digunakan untuk mobilitas jarak jauh, seperti bepergian ke luar kota. Dan memang sangat menguntungkan jika berada di lokasi banjir atau harus memasuki jalan curam dan tak beraspal, Opel adalah yang paling jagonya melawan semua itu. Sekalipun digunakan untuk kecepatan maksimal, kondisi mobil tidak melayang.

“Dulu saya pergi ke Bali, ke Pekalongan, Jakarta, Bandung, Malang dan Bojonegoro, biasanya jalan-jalan, berkeliling dengan anak-anak,” kata ibu Shofia, Faris dan Amal Husni.

Saat bepergian jauh, kendala adalah bensin boros. Anda bisa mengatakan 1: 9 untuk setiap liter. Seperti dari Yogya ke Pekalongan pulang pergi untuk menghabiskan Rp 200 ribu untuk bensin.

“Belum lagi jika ada kerusakan spare part, spare partnya harganya sangat mahal,” katanya.

Ia mencontohkan, baru saja mengganti kaca spion dari sepasang mobil yang mencapai Rp 750 ribu, apalagi jika mesinnya sudah terjebak setidaknya Rp 1,5-3 juta dari uang. Belum lagi, kalau spare part itu harus indentasi dulu. Suku cadang palung yang sering diganti adalah busi dan bel yang timming sekali berubah bisa mencapai Rp 3,5 juta.

“Istilah ngurusin kebo deh, harus rajin panas sebelum digunakan, kalau lupa manasin pasti jatuh waduh,” kata wanita kelahiran 11 Februari 1971 ini.

Soal perawatan mobil, Dewi menganggarkan minimal Rp 1 juta per bulan. Servis rutin yang biasa ia lakukan di bengkel khusus Blazer di Jalan Magelang, atau kalau cek saja secara rutin biasanya ia mengerjakan ahli mekanik yang kebetulan adalah tetangganya sendiri. Biayanya murah hanya Rp 200 ribu.

“Harus pintar merawat Blazer, biarkan mesin awet dan mulus,” katanya.

Dewi mengatakan jika suatu hari diberi rezeki lagi, ia ingin mengganti mobilnya dengan Toyota Avanza atau Mitsubishi Pajero. “Berdoalah jika ada rezeki lagi ya,” katanya. Baca selengkapnya diĀ https://mrgir.blogspot.com/2017/10/kelebihan-dan-kekurangan-opel-blazer.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *